Pengirit BBM Mobil
Pengirit BBM Mobil itu sudah menjadi barang rampasan
Pengirit BBM Mobil
ini akan kurencanakan sebagai oleh-oleh kedatanganku dari Palestina. aku di sini bertugas sebagai reporter berita dari Indonesia. Hari ini aku benar-benar mendapatkan ujian yang sangat menakutkan, saat ini aku sedang mendekam di sebuah ruangan berukuran 3×4 meter bersama seorang temanku. dia adalah juru kamera. kami diculik sekitar 18 jam yang lalu di lokasi ledakan utara Gaza yang terjadi kemarin sore. aku berharap seseorang ada yang mencari kami di luar sana karena aku seharusnya sudah datang beberapa jam yang lalu. namaku Yasir dan temanku ini bernama Dani. Dani sepertinya tidak bisa bersikap tenang sepertiku. dia lebih cenderung menggosok-gosokkan tangannya yang pucat dan terlihat basah oleh keringat. aku tahu dia sedang ketakutan dengan ancaman-ancaman yang diberikan oleh tentara idiot itu. aku lebih memilih untuk tenang dan berdoa untuk keselamatan kami berdua. dengan bersikap begini akan jauh lebih aman dan jauh lebih menunjukkan kami tidak memiliki kesalahan apapun. kami hanya bertugas sore kemarin, itu saja. aku bahkan tidak menyentuh sedikit pun benda-benda di sana yang dijadikan barang bukti ledakan dan bahkan pengirit bbm mobil
ruangan ini sangat sepi namun ketika seseorang yang ada di luar sana membuka pintu ini, akan terdengar sangat jelas keramaian di sana. aku menduga ini adalah ruangan kedap suara. aku khawatir kami akan dihajar di dalam ruangan ini dan tidak ada seorang pun yang mendengar jerit kesakitan kami. ah, bisa mendengar pun mereka akan mengacuhkan kami. aku tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar segera bisa keluar dari sini.
“Aku tidur dulu ya?” kataku pada Dani, namun dia berubah menjadi lebih sedikit geram padaku, “kau ini gila! di saat kita masih diculik dan terancam akan dibantai juga kau masih bisa tidur! kau ini sadar atau tidak?” aku merasa bersalah ketika dia mengatakan hal ini, tapi aku benar-benar lelah semenjak peristiwa tadi malam, aku belum makan, minum, mandi dan tidur! aku berusaha membuka pintu ini dan menggedornya namun tidak ada reaksi dari orang luar. aku melihat bungkus Pengirit BBM Mobil
tiba-tiba seseorang pria berbadan tegap berkaos putih ketat membuka pintu dan meraih kaosku lalu menghantam mukaku hingga lebam dan nyaris mimisan. dia membiarkanku tergeletak di lantai lalu keluar. aku setengah tidak sadar saat Dani berusaha membangunkanku namun aku roboh lagi. aku mendengar dia memanggil-manggilku, namun aku tenggelam di ketidaksadaranku.
perlahan aku tersadar dan bangun. aku masih di ruangan ini, Dani sudah meringkuk di sana. aku menyentuh pundaknya dan dia melirikku, “apa kau tidak apa-apa?” dia hanya menganggukkan kepalanya. dia sepertinya bisa sedikit tenang sekarang tidak seperti sebelum aku pingsan. “Kau pingsan lama sekali. apa kau sudah merasa lebih baik? jangan kau ulangi lagi ya?” katanya padaku dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. “baiklah. maafkan aku. hanya mencoba mencari cara agar kita bisa keluar dari sini.” Dia hanya diam dan kemudian memelukku, “aku tidak ingin mati di sini dan sekarang. kalaupun aku harus mati, aku ingin mati dalam keadaan beribadah. bukan seperti ini!” teriaknya dalam pelukanku, pertama aku sangat risih saat dia memelukku. kedua aku paling merasa aneh saat ada pria yang menangis di depanku.
Aku terus berdoa kepada Tuhan agar aku bisa dibebaskan dari tempat ini dengan cara baik sehingga aku bisa kembali ke tanah air dengan membawa oleh-oleh pengirit bbm mobil








