Penghemat Bensin Mobil
Penghemat Bensin Mobil itu dilemparnya ke dalam tong sampah yang sudah penuh
Penghemat Bensin Mobil
itu dijejalkannya ke dalam tong sampah yang sudah penuh dengan kotak-kotak makanan yang terbuat dari kertas. aku hanya bisa melihatnya dengan perasaan benci yang amat tajam. ingin sekali aku merobohkan tembok penjara ini. karena tempat inilah aku tidak bisa menyelamatkan satu-satunya kado ulang tahun untuk ayahku. aku sangat menyesali kecerobohanku, semua ini berawal dari ketika aku sedang berada di toko penjual perlengkapan kendaraan bermotor. aku bertanya kepada salah satu orang yang menjaga di sana. aku ingin membeli sebuah penghemat bensin mobil untuk ayahku yang seoarng sopir truk pengangkut kelapa. beliau biasanya berangkat dari pusat ke pasar. beliau rutin melakukan pekerjaannya hingga suatu ketika dia harus berurusan dengan tentara-tentara konyol Israel itu. ayahku dituduh menyelundupkan senjata untuk rakyat Palestina, tuduhan itu mengakibatkan aku dan ayahku harus ditahan. mereka mengikut sertakan aku lantaran aku ikut bersama beliau waktu itu, sehingga aku mau tidak mau ikut terseret ke dalam kasus ini.
beberapa jam yang lalu aku melihat ayahku sedang dimasukkan ke dalam sebuah ruangan gelap. ada sedikit cahaya di sana yang berasal dari lampu dop berwarna merah dan digantungkan rendah di atas meja kayu. hanya itu yang kuketahui suasana di sana. namun setelahnya aku mendengar teriakan jerit kesakitan ayah. mereka berteriak dan memaksa ayah untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya aku tidak tahu apa yang mereka maksud. aku hanya bisa menunggu ayahku keluar. selang 30 menit kemudian dia keluar dengan beberapa luka lebam di wajahnya dan dia berjalan pincang. dua orang ikut serta menggiring ayahku. dua di antaranya mengenakan seragam berwarna hitam dan seorang lagi berpakaian militer. tubuhnya tegap wajahnya sangat tidak menyenangkan dan kepalanya begitu mulus tak ada selembar rambut pun tumbuh di sana. seperti hutan gersang saja.
aku dan ayahku diletakkan di dalam sel yang berbeda, sel yang kutempati ini dekat dengan pintu keluar dan lebih terang, namun lebih sempit dari yang ayahku tempati. beliau sedang tersungkur di lantai, aku bisa melihat keadaannya karena sel kami berhadapan. banyak sekali orang yang hilir mudik di sana mengenakan pakaian militer dengan wajah tidak menyenangkan, menurutku sepertinya mereka tidak mengenal istilah tersenyum dan ramah. benar saja ketika aku berbicara dengan salah satu dari mereka, dia malah tidak menghiraukanku dan malah membentakku, dia mengatakan padaku bahwa aku ini terlalu cerewet dan banyak tingkah. padahal aku hanya ingin meminta izin untuk buang air kecil. itu saja. jadi dengan terpaksa aku harus pipis ke dalam botol plastik dan menutupnya rapat-rapat lalu membuangnya ke jendela jeruji yang ada di atas.
aku berharap botol itu menimpa tentara-tentara sialan itu. namun tidak ada reaksi apapun saat aku melempar botol itu keluar. beberapa saat kemudian salah seorang dengan kereta dorong membagikan sepiring makanan untuk tahanan. menunya bukan favoritku. ini hanyalah sepotong roti setengah basi dengan segelas air putih. aku tidak memakannya, aku hanya meletakkannya di sampingku dan mengenyahkannya. ayah juga berlaku sama denganku. dia malah membuangnya hingga berserakan di lantai. ayah melakukan ini agar para tentara itu tahu bahwa makanan ini lebih layak untuk dibuang dari pada dimakan. aku masih memikirkan penghemat bensin mobil





