Penghemat Gas
Penghemat Gas itu kuterima tadi malam lewat sebuah pos
Penghemat Gas
ini adalah kado ulang tahun dari putraku yang ada di tanah air, dia adalah Rahman. saat ini dia sedang menempuh gelar S2 nya di UGM. sebetulnya aku ingin dia untuk melanjutkan pendidikannya di Brazil saja agar aku bisa rutin menjenguknya. namun dia mengatakan padaku bahwa ingin menemani ibunya di tanah air saja. aku sangat merindukan keluargaku, sudah 5 tahun aku ada di sini dan hanya berkomunikasi lewat pesan singkat di ponsel dan telepon saja. aku bahkan telah melewatkan ulang tahun pernikahan kami selama 5 tahun berturut-turut. aku tahu aku sudah melewatkan banyak momen dengan keluargaku. namun inilah takdir yang harus kutempuh. menjadi seorang pengajar relawan yang ditempatkan di Palestina untuk mengajar anak-anak tak berdosa ini yang setiap hari nyawanya diikuti oleh peluru dan rudal-rudal milik tentara militer. aku teringat dengan penghemat gas
saat ini aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku di gedung seberang sana. gedung itu baru direnovasi karena beberapa bulan yang lalu luluh lantah diterjang rudal tentara Israel, ini adalah serangan yang salah sasaran. seharusnya rudalnya mengenai masjid yang ada 500 meter dari gedung ini. Ini adala suatu keajaiban, ketika penembak jitu itu merasa yakin dengan bidikannya, Allah telah menyelamatkan satu-satunya tempat ibadah yang ada di sini. Ini adalah salah satu wujud kasih sayang Allah yang diberikan di negara ini. aku tahu itu. banyak kejadian ajaib yang berkali-kali terjadi di sini. mulai dari munculnya pasukan berjubah putih yang sering kali menjadi incaran tentara Israel di sini, namun jangankan menangkap menyentuh mereka saja rasanya seperti menangkap asap di udara. mereka memang sering melihat prajurit berjubah putih itu, namun saat jarak mereka sudah dekat pasukan itu malah menghilang. ada lagi kejadian aneh lainnya yang kualami sendiri. waktu itu aku sedang tersesat dan malah mendekati markas musuh. tiba-tiba dari arah barat seekor anjing pelacak menghampiriku dengan buasnya. aku berusaha setenang mungkin, aku tidak lari. aku khawatir, jika aku lari malah akan menarik perhatian banyak orang yang ada di dalam mess itu. saat aku berusaha menjinakkannya, aku mencoba beberapa kalimat yang sebetulnya aku paham ini tidak akan membantu. aku mengatakan kalimat ini pada anjing ini, “pergilah, aku sedang melintas di sini. aku adalah relawan yang datang kemari atas izin Allah. Pergilah.” aku melemparkan sebuah permen cokelat padanya, dia merubah posisi siap menyerangnya dengan posisi duduk dan memakan cokelat pemberianku itu lalu pergi begitu saja. aneh bukan? seharusnya dia tidak mengerti yang kukatakan. aku mengatakannya dalam bahasa Indonesia, dia ini adalah anjing milik bangsa Israel! apakah dia mengerti dengan apa yang kumaksud? kecuali jika mereka sudah mengajari anjing ini bahasa Indonesia baru itu bisa masuk akal! aku teringat dengan Penghemat Gas
Cerita aneh juga pernah terjadi dengan salah satu temanku yang juga menjadi anggota tim relawan. dia pernah bertemu dengan 1 truk besar prajurit Israel, di sana dia hanya bisa membaca doa dan meminta pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari mereka. Ketika mereka turun dari truk mereka sepertinya sama sekali tidak melihat kehadiran temanku yang sedang berjalan dan melintasi jalan menuju mess kami.
dia berjalan dengan tenang dan mereka hilir mudik di sekitar temanku. mereka sama sekali tidak menyapa temanku. aku kembali teringat dengan penghemat gas







