Penghemat BBM Magnet
Penghemat BBM Magnet yang dibawa Putra kali ini lebih banyak dari hari kemarin. dia memutuskan untuk mengirim
Penghemat BBM Magnet
lebih cepat dari pada hari-hari sebelumnya.
bawaan yang diletakkan di tas punggungnya adalah barang yang terakhir. dia menuju kediaman rumah Pak Anang. di sana nampak seorang wanita berjilbab sedang menyirami tanaman dengan selang. Ternyata istri Pak Anang, entah siapa nama beliau. Putra mengira wanita itu adalah Latika. dia mendekati pintu gerbang dan mengucap salam, “Assalamu’alaikum.”
“wa’alaikumsalam. Eh Nak Putra, masuk-masuk. mau antar barang ya?”
“iya bu, Pak Anang ada?”
“bapak lagi ada di musholla, sebentar lagi pulang. silakan masuk.” wanita yang tak kuketahui namanya ini berjalan di belakangku. “sebentar ya? mau ibu buatkan teh dulu.”
“terimakasih bu. tidak perlu repot-repot.” wanita itu berjalan menuju dapur. Putra memandangi seluruh sudut rumah ini. ada beberapa foto nampak berjajar di tembok. foto Pak Anang berdiri dengan Latika ketika wisuda dan didampingi ibunya, ruang tamu bercatkan cokelat tua ini nampak hangat dan bersih. ada beberapa pot berisi bunga-bunga mawar segar di atas meja dan buffet. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Ucap Putra sembari bangkit dari posisi duduknya, “eh Kamu Putra. sebentar ya?”
Lelaki itu memasuki sebuah kamar tak berpintu namun dibatasi dengan gorden berwarna merah jambu. kemudian Pak Anang keluar dengan wajah cerah. “bagaimana? apa bertambah ini barangnya?”
“iya pak. nambah delapan unit.”
“untuk masalah Latika, dia sudah paham.” Putra agak terperanjat ketika Pak Anang berbicara masalah ini secara mendadak, “oh begitu pak, lantas saya harus bersikap bagaimana?”
“sebentar. Tika, coba kamu ke sini sebentar.” jantung Putra berdegup kencang ketika orang ini memanggil anaknya. tak lama kemudian Latika keluar bersama ibunya. dia nampak menundukkan kepala dan duduk di samping ayah dan ibunya. dia nampak cantik dengan jilbab berwarna hijau cerah. tas yang berisi penghemat bbm magnet itu diletakkannya di bawah meja. “Latika, bapak kemarin sudah cerita panjang lebar sama kamu soal niat Mas Putra ini. untuk lebih meyakinkan lagi bapak mau bertanya lagi, apa kamu bersedia menikah dengan dia?”
suasana hening sejenak, kali ini Putra tidak berani menegakkan pandangannya. dia tertunduk diam dengan perasaan yang tidak karu-karuan. “iya pak, Tika bersedia.” perasaan lega membasahi perasaan Putra kala itu. Pak Anang meminta orang tuanya untuk mendatangi kediamannya dan Putra mengiyakannya.
Sore itu menjadi sore yang paling melegakan sekaligus membahagiakan bagi Putra, dia segera mengontak adiknya, Nia yang ada di Malang dan menghubungkannya dengan ibu. Putra mengutarakan niatnya pada ibunya dan akan menjemput keluarganya. “Alhamdulillah, apa dia wanita yang baik?” tanya ibunya dari seberang sana, “insyaallah bu, dia berjilbab seorang janda tanpa anak. dia juga mengajar di salah satu TPQ di sini bu.” usai menjelaskan seluruh maksudnya, Putra mengakhiri pembicaraannya dan menuju kamarnya. di sana dia beristirahat.Matanya terpejam erat tatkala malam mulai menyelimuti suasana di sana.
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku ( Sapardi Djoko Damono)
Keesokan harinya dia berniat untuk libur satu hari. dia ingin menenangkan pikirannya yang kemarin sempat tegang, dia ingin memanjakan dirinya dan beristirahat tidak mengantar penghemat bbm magnet



